SEKILAS INFO

     » Aspirasi Anda Dapat Disampaikan Melalui Email kecamatandagangan1@gmail.com      » Sugeng Rawuh di Website Resmi Kecamatan Dagangan. Pemerintah Daerah Kabupaten Madiun Tahun 2017
Kamis, 01 September 2016 - 11:45:02 WIB
PETERNAKAN LEBAH MADU DI DESA BANJARSARI WETAN

Diposting oleh : Administrator
Kategori: BERITA DESA - Dibaca: 559 kali

DAGANGAN – Usaha beternak lebah madu yang ditekuni Sunardi, warga Desa Banjarsari Wetan, Kecamatan Dagangan mulai menampakkan hasil. Usaha tersebut dirintisnya sejak tahun 2000 saat masih menjadi binaan Perhutani KPH Madiun. Pengalaman Sunardi semakin bertambah ketika dirinya dikirim ke Tretes, Malang untuk mengikuti pelatihan beternak lebah madu. ‘’Sejak saat itu, jadi semakin tertarik untuk menggeluti usaha beternak lebah madu,’’ kata Sunardi kepada Jawa Pos Radar Madiun, kemarin(25/2).

Selain madu sebagai hasil utama lebah, juga ada royal jelly, bee pollen (tepung sari) dan juga propolis. Untuk sebotol madu lebah (satu kilogram) dibanderol dengan harga yang berbeda mengikuti jenis bunganya. Untuk madu bunga rambutan dan mangga dihargai perkilonya sebesar Rp 120 ribu. Dan untuk bunga randu atau karet Rp 100 ribu. Sedangkan untuk Royal Jelly per 30 mililiter dihargai Rp 100 ribu.

Sedangkan untuk Tepung sari atau bee pollen per 150 mililiter dihargai Rp 50 ribu. Selain itu, stup atau kotak lebah juga dijual dengan harga Rp 150 ribu (kosong) dan Rp 800 ribu (sudah berisi lebah). ‘’Untuk propolisnya saya tidak jual, hanya untuk obat bagi yang membutuhkan,’’terangnya.

Kini usaha ternak lebah madu milik Sunardi sudah semakin berkembang. Saat ini, Sunardi memiliki sekitar 150 stup (kotak lebah) yang digembalakan sendiri. Tidak hanya di Madiun, kadang Sunardi juga menggembalakan lebahnya hingga keluar daerah. Misalnya Gresik, Kediri, Tulung Agung dan bahkan hingga Jawa Tengah. Dari jumlah tersebut dalam sekali panen bisa dihasilkan madu sebanyak dua drum plastik besar. Namun, Sunardi mengungkapkan, dalam beternak lebah sangat bergantung pada musim bunga. ‘’Jika saat musim bunga, seminggu dua minggu bisa dipanen,’’ terangnya.

Namun, Sunardi menyayangkan kondisi hutan di daerah Madiun yang kurang memiliki manfaat. Padahal, Madiun merupakan salah satu daerah yang memiliki hutan cukup luas. Sunardi membayangkan seandainya hutan yang luas tersebut bisa ditanami tumbuhan seperti Kaliandra, Bunga Matahari, atau tumbuhan lain bakal bisa lebih bermanfaat. ‘’Mungkin saat ini sudah banyak hutan yang ditanami pohon yang memiliki manfaat, tapi yang belum juga masih banyak,’’ keluhnya.

Sunardi juga mengaku ingin ternak madu usahanya bisa memberikan manfaat lebih bagi masyarakat. Dengan cara memfokuskan peternakan lebah madu miliknya sebagai sarana pendidikan. Bahkan dia menargetkan mulai tahun ini jika ada sekolah TK hingga SMA atau Perguruan Tinggi yang ingin mempelajari beternak madu bisa datang ke peternakan miliknya.

Sunardi mengaku selain pelajar juga ada pengusaha dari Papua yang berkunjung ke peternakannya untuk memesan stup dan alat pemeras madu. ‘’Jika ada pelajaran tentang lebah atau madu, bisa melakukan praktik ke peternakan saya. Biar tahu yang sesungguhnya,’’ tegasnya.

Kepala Desa Banjarsari Wetan, Samekto, mengungkapkan pemerintah desa sangat mendukung usaha peternakan madu yang dimiliki warganya tersebut. Apalagi, kedepan akan dikembangkan menjadi pusat studi dan penelitian tentang peternakan lebah madu. Selama ini, melalui pemerintah desa, madu produk asli Banjarsari Wetan tersebut selalu diikutkan dalam kegiatan bazaar. Baik tingkat Kabupaten maupun di bawahnya. Hal itu menurut Samekto, dilakukan untuk mengenalkan madu Banjaesari Wetan ke masyarakat. ‘’Karena madu sudah dianggap sebagai produk unggulan dari Desa Banjarsari Wetan,’’ pungkasnya. (tif/bar/eba)

 

Sumber:
http://www.radarmadiun.co.id/detail-berita-865-peternakan-lebah-madu-untuk-pendidikan-.html