SEKILAS INFO

     » Aspirasi Anda Dapat Disampaikan Melalui Email kecamatandagangan1@gmail.com      » Sugeng Rawuh di Website Resmi Kecamatan Dagangan. Pemerintah Daerah Kabupaten Madiun Tahun 2017
Senin, 16 Mei 2016 - 09:31:05 WIB
SAPU IJUK KHAS BANJARSARI KULON

Diposting oleh : Administrator
Kategori: BERITA DESA - Dibaca: 454 kali

DAGANGAN – Masa kejayaan perajin sapu ijuk di Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Dagangan kian tahun semaikin meredup. Keberadaan sapu plastik buatan pabrik menjadi kompetitor terbesar yang dihadapi para perajin sapu ijuk. Kendati kalah bersaing di pasaran, namun di desa Banjarsari Kulon masih ada beberapa home industri yang tetap eksis hingga sekarang. ‘’Dulu sapu ijuk Banjarsari sempat jaya di tahun sekitar 1980,’’ kata Abdul Malik, Kepala Desa Banjarsari Kulon kepada Jawa Pos Radar Madiun, kemarin (17/2).

Sapu ijuk merupakan sapu yang berbahan baku ijuk pohon aren. Proses pembuatan sapu ijuk sendiri tidak memerlukan waktu lama. Dengan alat sederhana, ijuk yang sudah siap dilekatkan pada bingkai dari potongan bambu yang sudah disiapkan sebelumnya. Setelah itu ijuk dijahit dengan menggunakan tali yang juga berbahan ijuk aren. Setelah dijahit, kemudian dilakukan proses penyikatan agar sapu yang dihasilkan terlihat rapi, bersih dan menarik. Kemudian ujungnya dirapikan dengan cara dipotong. ‘’Kalau gagangnya biasanya menggunakan kayu rotan, bambu atau kayu biasa,’’ jelas Malik.

Harga pasaran sapu ijuk produksi Desa Banjarsari Kulon juga bervariasi. Ada yang kelas bawah sekitar Rp 6 ribu perbijinya. Sedangkan menengah Rp 12 ribu dan yang spesial seharga Rp. 20 ribu perbiji. Jika dibandingkan dengan produksi pabrik, Malik berani bersaing soal kualitas, harga serta masa pakai yang lebih lama hingga 2-3 tahun. Meskipun diakui dari sisi tampilan buatan pabrik lebih menarik ketimbang produksi home industry Desa Banjarsari Kulon.

Pada masa kejayaannya, sapu ijuk Desa Banjarsari Kulon memang sudah terkenal di berbagai daerah. Tidak hanya di wilayah Madiun sekitar, tetapi juga di kota besar. Seperti Surabaya dan Jakarta. Malik menyebut mayoritas penduduk Banjarsari Kulon dulu berprofesi sebagai pembuat sapu ijuk. Tak kurang seratus home industry dari lima rukun tetangga (RT) setiap harinya memproduksi sapu berbahan baku ijuk pohon aren itu. ‘’Menurut sejarah dari nenek moyang, ijuk difilosofikan sebagai simbol bersih-bersih (mengajak kebaikan),’’ terang Malik.

Desa Banjarsari Kulon memang masih memiliki hubungan sejarah dengan keraton Jogjakarta. Sebelum tahun 1964, Desa Banjarsari (sekarang dipecah menjadi dua Banjarsari Kulon dan Banjarsari Wetan) masih berupa tanah perdikan (hadiah dari kerajaan). Hal itu menjadikan Banjarsari sebagai satu di antara tiga desa di kecamatan Dagangan (du lainnya Desa Sewulan dan Taman) yang dikategorikan sebagai desa istimewa. ‘’Pemimpinnya juga pasti seorang kiai (tokoh agama),’’ tambahnya.

Malik mengungkapkan, keberadaan industri sapu ijuk Banjarsari sendiri sudah ada sejak masih menjadi desa istimewa. Karena industri tersebut memang dikembangkan secara turun temurun oleh warga setempat. Padahal di desa yang juga memiliki situs Islam Kiai Ageng Muhammad bin Umar tersebut tidak ada satu pun pohon aren. ‘’Saat ini jumlah home industry sudah menurun. Dari seratusan lebih kini tinggal 15 pengusaha yang bertahan,’’ ungkapnya.

Ke depan Malik berharap pemerintah daerah mau perhatian dan peduli terhadap nasib belasan home industry yang tinggal belasan saja. Kepedulian tersebut dapat berupa modal usaha, pelatihan dan pembinaan serta mencarikan pasar yang mau membeli produk khas Desa Banjarsari Kulon. Malik juga menyebut pemerintah desa sendiri selalu berupaya membantu permodalan bagi industri tersebut melalui Alokasi Dana Desa (ADD). Malik khawatir jika ke depan sapu ijuk Banjarsari sudah tidak mendapatkan tempat di pasaran. Yang berakibat salah satu brand desa tersebut akan hilang. Belum lagi nasib para pekerja dan pengasuha yang akan kehilangan pekerjaannya. ‘’Makanya kami ingin dengan adanya campur tangan pemerintah daerah bisa mengembalikan kejayaan sapu Ijuk Desa Banjarsari,’’ pungkasnya. (tif/bar/eba)

Sumber: http://www.radarmadiun.co.id/detail-berita-667-kompetitor-itu-bernama-sapu-plastik-.html